Film Kalbar

Home » Uncategorized » FILM INDIE : Antara Idealisme, Kreativitas Dan Harapan

FILM INDIE : Antara Idealisme, Kreativitas Dan Harapan

       

FILM INDIE : Antara Idealisme , Kreativitas Dan Harapan

Oleh : Miftahul Huda

           Film Indie / Film Independence adalah film yang di buat secara independence oleh sekelompok orang/ komunitas tertentu, yang biasa nya tanpa sponsor dari pihak manapun.  Sehingga dalam proses produksi film sering kali terjadi  masalah, terutama  masalah yang berkaitan dengan financial. Sekalipun Konsekwensi sang aktor/ aktris tidak mendapatkan bayaran dari  produksi film indie, namun tetap saja masalah financial adalah masalah utama karena banyak hal hal yang harus di persiapkan dalam sebuah proses produksi film, seperti : Penggandaan Script, property, alat shooting, dan lain lain., Meskipun tidak ada sponsor atau anggaran dana yang pasti, bukan berarti kita membuat film indie dengan asal asalan. Karena mentang mentang calon artis/aktor tidak di bayar kita lalu melakukan casting asal asalan, tentunya hal ini juga akan mempersulit proses produksi karena karakter yang kita inginkan tidak sesuai dengan tokoh yang telah di buat satu persatu.

            Film indie biasanya juga di sebut Film Amatir oleh orang orang yang sudah terlanjur  di atas angin ( saya tidak perlu menyebut siapa orang orang tersebut), menurut sudut pandang saya yang di katakan amatir itu bagaimana ?. apakah yang dinamakan amatir hanya dari segi peralatan saja ?… apakah tidak lebih memalukan lagi jika sebuah peralatan canggih hanya menghasilkan adegan adegan murahan seperti yang biasa kita lihat di layar kaca televisi kita. Bukalah mata kita baik baik…, coba kita lihat satu persatu betapa rongsokan nya, sinetron atau serial drama lepas di Televisi kita. Lihatlah mereka para Produser sesungguhnya hanya ingin mencari uang dengan memanfaatkan pasar, ya pasar uang yang berada di area berfikir primitif rata rata masyarakatIndonesia. Sebuah ironi dan kenyataan ketika Film telah kehilangan sebuah nilai seni itu sendiri, Nilai pasar lebih dominan bertahta dan berkuasa mengangkangi Dunia Perfilman Indonesia Saat ini. Lihatlah Film Menculik Miyabi, Pesantren Rock n Roll, dan banyak sinetron murahan lain nya, adalah wujud pemanfaatan moment menjadi sebuah pasar uang bagi Rumah produksi Film.

            Film Indie baik yang di katakan amatir atau profesional pada dasarnya saya tidak peduli apa yang di katakan orang orang atas angin tersebut. Di sisi tertentu mereka sengaja membuat jurang pemisah agar ruang gerak para Pembuat film indie yang notabene tidak memiliki modal, hanya dapat berputar putar di pasar kelas bawah. Sejujurnya saya justru lebih senang dengan  kreativitas para sineas yang di katakan amatiran. Saya menemukan banyak ide ide kreative yang di tuangan disana, meskipun disanasini masih banyak kekurangan terutama dalam hal tekhnis yang memang saya maklumi asilitas kurang mendukung, namun satu sisi kreativitas daya cipta baru mulai mengalir disana. Dan tidak sedikit saya menjumpai Film Film Indie yang memiliki kwalitas baik, bahkan dapat di sandingkan dengan kwalitas film layar lebar Nasional.

            Pemerintah yang seharusnya sebagai fungsi regulasi harusnya bisa membaca situasi, bagaimana animo dan bakat bakat para sineas muda yang berjalan secara indie, betapa banyak kreativitas bermutu yang layak untuk di publish, atau sepaling tidak dapat melihat dengan reel bahwa para generasi muda saat ini sedang memerlukan suatu wadah untuk berexpresi. Mari sekarang kita Coba lihat, apakah ada bagian khusus dalam pemerintahan yang menangani perfilman.?. lihat di Dinas Pariwisata, adakah bagian khusus yang menangani masalah perfilman sebagai wujud kreativitas bagi generasi muda, atau bisa saja sebagai wujud promosi apa yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Lihat juga di dinas KOMINFO, Adakah yang  membidangi masalah perfilman, atau silahkan lihat juga di instansi pemerintah lain, adakah yang membidangi ?.

            Tentu saja hal tersebut di atas menjadi suatu problem awal yang berekses sangat besar bagi tuntutan eksplorasi. Kita tahu, creator film indie biasanya memiliki sikap yang tegas dan tak peduli persoalan industri. Harga yang harus dibayar adalah tidak adanya ruang untuk menampilkan film indie tersebut. Ini rupanya justru melahirkan simpatisan-simpatisan aktif yang pada akhirnya mendukung para pekarya film indie. Bermunculannya bioskop-bioskop alternative yang diselenggarakan kalangan Sekolah, kampus, lembaga dan organisasi menjadi bukti bahwa ada interaksi saling menguntungkan bagi ruang alternative tersebut. Jadi sangat disayangkan jika film indie yang ada tidak memberikan tawaran atas eksplorasi yang dihasilkan.

            Eksplorasi dalam film indie mempunyai kadar yang tak terbatas. Sifatnya yang mandiri dan swadaya membuat apa yang ingin disampaikan creator bisa dengan bebas ditampilkan. Menilik hal ini, tentunya film indie mempunyai  sumbangan yang sangat besar bagi terbukanya wacana intelektual. Kebebasan eksplorasi berimbang dengan kebebasan tafsir. Kebebasan mempertanyakan sekaligus mencari jawaban. Akan lahir pemahaman-pemahaman baru atas tawaran konsep, sehingga di ruangnya nanti, film indie akan mencetak para pengapresiasi Dan Pengekspresi,  bukan penikmat hiburan yang hanya bisa menyaksikan, tanpa bisa merasakan apa yang terjadi di balik apa yang ia saksikan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: