Film Kalbar

Home » Uncategorized » FILM INDIE : Sebuah Kisah Antara Realita & Hobby

FILM INDIE : Sebuah Kisah Antara Realita & Hobby

FILM  INDIE

Sebuah Kisah Antara Realita & Hobby

Oleh Miftahul huda

           Berawal dari sebuah hobby dan iseng iseng di akhir tahun 2005, bersama dengan beberapa teman dekat untuk membuat sebuah film yang sangat tidak profesional, he.. he .., lho kok tidak profesional ?, coba deh bayangkan dengan modal kamera pocket, PC Pentium abal abal, ha ..ha .. apalagi alat lain ?, oh gak ada lagi, karena memang gak ada yang mau di pinjam lagi, he.. he .. saat itu dengan bermodalkan nekat kami langsung saja membuat Skenario yang bisa juga dikatakan sangat tidak profesional, ( dialog monoton tanpa di sertai keterangan sebagaimana lazimnya sekenario pada umumnya, ya begitulah kalau tidak tahu apa apa alias butak kayu, akhirnya jadi butak tulik,  ha ha. Ok, setelah sekenario jadi kami langsung saja memilih pemain, lagi lagi tanpa prosedur yang benar, tidak ada casting, tidak ada penggodokan pemain, tidak ada standar karakter tokoh, pokoknya kami langsung main bantai bantai saja. Proses pengambilan gambarpun di mulai dari mulai A sampai Z, tidak ada cut dalam akting, pokok nya hantam kromo saja, yang penting akting aktingan yang memalukan itu cepat selesai.

Proses editing memakai PC abal abal pinjaman teman dimulai, betapa menyedihkan nya berhadapan dengan PC butut, serasa mau di buang ke sungai saja, bayangkan saja ketika mengcompile potongan potongan gambar yang hanya berdurasi kurang dari 60 menit bisa memakan waktu 1 X 24 jam lebih , ha ha ha. Tapi dengan sabar kami menikmati proses editing yang membosankan, hingga akhirnya editing usai setelah kurang lebih dua minggu.

Saat nya mereview hasil kerja keras yang butak tulik he .. he .., dengan senyuman puas tapi terkadang juga malu melihat film secara overall banyak yang tidak beres, gambar yang kaya gempa bumi, editing yang amatiran, akting yang juga sangat tidak profesional, dan banyak hal hal lain yang secara teori maupun tekhnis juga banyak kekurangan. kami memutar film tepat pada malam tahun baru 2006, sebenarnya malu juga memamerkan karya yang snagat tidak profesional ke khalayak ramai. Tapi mau di apakan lagi orang orang pun juga penasaran dengan gembar gembor kami saat film sebelum tayang, dan  Entah apa yang mereka rasakan setelah melihat film kami yang amatiran trsebut.

Dari Pembuatan film pertama kali tersebut sesungguhnya banyak sesuatu yang berubah, yang awal nya kami hanya iseng belaka namun kemudian lama kelamaan berkembang menjadi sebuah hobby. Dan pada puncaknya kami bersepakat untuk membuat suatu komunitas kecil khusus dalam bidang seni film. Dari sini kami mulai banyak menggali ilmu tentang dunia perfilman dari berbagai Buku, artikel, internet dan sharing dengan kawan kawan yang lebih berpengalaman di luar daerah. Secara sadar sesungguhnya sebuah hobby atau krativitas yang kami lakukan, sedikit banyak menyita waktu tenaga dan fikiran, sementara tuntutan hidup terus mendesak, akhirnya Seiring dengan bergesernya waktu dan tuntutan hidup, satu persatu kami menempuh jalan hidup masing masing, ada yang memutuskan pergi melaut, merantau ke pontianak, dan memutuskan untuk masih tinggal di kampung, sementara saya kembali hijrah ke Ketapang dan mengajar Di SMPN 03 Ketapang pada tahun 2006.

Di akhir tahun 2008, tepat ketika saya mengundurkan diri dari bangku kuliah dan posisi mengajar, penyakit hobby yang sempat terkubur kembali bangkit, dengan bermodalkan satu Camcorder dan beberapa Tim Kecil film maker, kami mengumpulkan para pelajar tingkat SMP/MTs Dan SMA/MA yang berminat dalam bidang seni perfilman. Kami akhirnya menjaring beberapa orang yang memang memiliki komitmen sesuai dengan apa yang kami paparkan, ya salah satunya tidak ada Honor/insentif ketika menjadi aktor/aktris dalam film Indie, karena sesuai namanya Film Indie adalah Film independent yang tidak memiliki sponsor, Idealisme dan perjuangan serta pengorbanan adalah kunci utama ketika bergabung bersama komunitas perfilman independent seperti kami.

Setelah komitmen tercapai, tidak lama lama kami langsung menggarap script yang sedikit lebih canggihlah dari pada beberapa tahun lalu. Tekhnis secara teori dalam pembuatan film pun rasa rasa nya sudah di luar kepala. He .. he . hanya praktek saja yang belum kami laksanakan. Singkat cerita proses pengambilan gambar pun usai, tinggal melihat hasil dan proses ediitng. Tapi apa yang terjadi …? Ternyata semua gambar dari tiga camcorder yang di transfer, 80 % hasilnya tidak waras, he he … ada yang gempa bumi, view nya, komposisinya, angelnya, wah… pokoknya amburadul deh… maklum yang menjadi kameramen masih amatiran semua, Mau tidak mau proses pengambilan gambar di ulangi kembali, dan dengan susah payah akhirnya Film selesai di produksi dalam waktu kurang dari dua bulan.

Ada kepuasan tersendiri yang tersemburat di balik wajah para pemain dan crew saat film pertama kali di launchingkan, setelah mendapat respon baik dari para penonton kami semakin menggila untuk kembali memperkenalkan Film lokal yang kami produksi saat itu. Dengancara RoadShow pemutaran dari satu tempat ketempat lain, bahkan pemutaran kami lakukan hingga sampai ke luarkotadengan menggandeng beberapa penggiat seni setempat. Setelah puas dengan Road show, kami akhirnya mengukuhkan komunitas dengan berbadan Hukum Terakta Notaris pada awal Tahun 2009. Karena seringanya berhubungan, Para Crew dan aktor serta aktris, secara tidak langsung mengikuti proses kadrisasi selama beberapa bulan.

Rencana demi rencana di susun untuk pembuatan film selnjutnya, namun kembali lagi karena tuntutan hidup kami akhirnya terpisah. Saya kembali pindah ke Kayong utara pada bulan maret 2009 dan bekerja Sebagai Staf Protokoler Di Kantor DPRD kayong Utara. Namun karena kesibukan yang tidak seimbang akhirnya saya kembali mengundurkan diri pada tanggal 22 Juli 2009 dari kantor. Beban kerja di luar terkadang membuat bentrok dengan jadwal kerja di kantor adalah alasan utama saya mengundurkan diri, belum lagi kesibukan di Komunitas yang tidak seharusnya saya sebutkan juga menjadi beban sekaligus tanggung jawab.

Setelah terlepas dari dunia yang mngikat akhirnya saya beserta Tim film Maker yang kebanyakan dari anak anak Sanggar yang bersekolah di MTs/ SMP dan SMA kembali bangkit untuk berkarya dalam seni film lokal. Beberapa karya terus menerus kami buat hingga memenuhi sebagian ruang data Di PC dan berjejer tak beratur di rak kerja yang sudah mulai Usang. Entah sampai kapan hal ini terus berlangsung, Tahun depan atau beberapa tahun kemduian, atau hingga kami tiada lagi di dunia ini, kami hanya percaya bahwa harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, sedangkan manusia mati hanya meninggalkan nama, yang menjadi pertanyaan adalah Nama Seperti apakah yang ia tinggalkan ?.

Sejujurnya Berkarya dalam dunia seni Film adalah sesuatu yang dilematis bagi saya, karena sudah terlanjur hobby sehingga sudah mendarah daging dan sulit untuk di buang, mungkin begitulah ungkapan yang cocok. Ketidak famahaman Para pengkonsumsi dunia hiburan yang memiliki sudut pandang pragmatis adalah salah  satu pola pandang yang mempersulit dalam pergerakan kreativitas, di tambah lagi dengan tayangan murahan di televisi yang terus menjejali mereka dengan isu isu tidak bermutu membuat makin tumpulnya pola berfikir sseorang dalam memenadang sebuah Karya dan Krativitas.

Saya tidak menyalahkan pemerintah, tapi izinkan saya bertanya dengan anda orang orang pemerintah yang merasa berkaitan dengan kreativitas atau karya atau juga seni dan sangkut pautnya. Apa yang dilakukan pemerintah sebagai fungsi regulasi bagi para creator untuk dapat mengekspresikan diri melalu beberapa karya dan krativitas sesuai dengan bidang nya ?, silahkan anda jawab atau boleh saja anda tanyakan dengan orang yang memang tepat. Saya rasa pemerintah lebih faham dengan hal tersebut, tapi pertanyaan nya mengapa Dan ada apa ?. Kami tidak meminta uang atau bahkan mengemis jika  hanya untuk membuat suatu karya, toh selama ini tidak ada satu bantuan resmi yang keluar dari dana Pemerintah.

Jika kami meminta uang, mungkin itu akan habis dalam beberapa saat, tidak.. kami tidak meminta uang, sekali lagi saya katakan,  KAMI TIDAK MEMINTA UANG, Yang Kami pinta sesungguhnya adalah RUANG UNTUK BEREKSPRESI DAN MENAMPILKAN KARYA, itu saja .

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: